VISI dan MISI

Belajar, Berkarya dan Berprestasi ... Akademis, Organisatoris, dan Humanis

TUJUAN :

Forum Pengajian Anak-anak ini adalah sarana untuk menjalin silaturrahmi dan komunikasi juga informasi bagi orang-orang yang secara khusus pernah atau sedang berada di dalamnya atau siapapun yang memiliki kepedulian dan "kepentingan"..Forum ini sebagai media untuk sharing serta memantau setiap kebijakan PAN dengan tujuan untuk menjadikan PAN lebih baik dan lebih maju untuk kedepannya.dengan adanya Share, Masukan, Kritikan positif, semuanya bisa dijadikan sebagai media pembelajaran.....

VISI :

Pengajian Anak-anak Nur Farhan adalah sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang bertujuan menjadikan generasi muda yang faham dan mengaplikasikan nilai-nilai keagamaan...

Pengajian Anak-anak Nur Farhan menerima santri baru untuk kegiatan belajar mengajar setiap hari Senin, Rabu dan Jumat jam 16.00 - 18.00 WIB. KBM terdiri dari 3 kelas yaitu kelas TKA Putra dan Putri, TPA dan TQA. Syarat Pendafaran : Mengisi Formulir, Pas Foto dan Foto Copy Akte Kelahiran.

TULISAN BERJALAN

SUKSESKAN SUKSESI KEPEMIMPINAN PENGURUS PENGAJIAN ANAK-ANAK NUR FARHAN 2013-2015

Kamis, 09 Mei 2013

Habis Gelap Terbitlah Terang


Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

Rabu, 08 Mei 2013

Amanah Yang Tidak Boleh Diabaikan ... ... ...

Semua yang kita terima, semua yang kita dapatkan, semua yang kita pegang dan semua yang kita kelola adalah amanah. Amanah tidak hanya terpaku kepada hal-hal yang sifatnya materi, tetapi lebih dari itu, juga bisa dikategorikan sebagai amanah.

Lembaga, termasuk yang ada di dalamnya, Predikat Ustadz, Santri, adalah amanah yang harus dikelola secara baik dan bijak.

Santri adalah amanah terbesar bagi Ustadznya. Bagaimana kita bisa mengelola amanah itu dengan bijak agar sesuai dengan yang diharapkan.

Ada banyak tipe dan karakter dari amanah yang satu ini : Santri. Mulai dari usia, tingkat IQ, EQ, dan sebagianya. Perlu kelihaian dan strategi tersendiri dalam mengelola dan memanage santri.

ADa beberapa contoh kategori santri, Santri anak-anak, dan santri remaja. Khusus untuk kategori santri remaja, perlu adanya pemberdayaan dalam upaya melibatkan partisipasi dari mereka. Karena untuk kategori ini tidak mungkin disatukan dengan santri-santri yang lain khususnya dengan kelompok santri yang usianya lebih kecil.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengelola amanah ini, di antaranya dari segi usia, kategori santri remaja adalah kategori dimana masa-masa pencarian jati diri terasa begitu kental, mengidolakan sesuatu dengan totalitas, sikap kritis yang mungkin lebih tepat dikatakan ngeyelan.  Tapi itulah dinamika dalam menghadapi mereka. Perlu energi yang kuat agar kondisi seperti itu bisa tetap tersalurkan menjadi sesuatu yang positif.

Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa upaya pemberdayaan yang harus dilakukan dimaksimalkan jangan sampai menjadikan mereka seperti superior, merasa paling diantara santri yang lainnya. Karena bagaimana pun juga status dan kedudukan mereka tetap sama seperti yang lainnya : Santri. Dan Posisi Ustadz pun diupayakan tetap menjadi posisi yang berwibawa di hadapan mereka.

Diharapkan upaya pemberdayaan ini - dengan tidak meninggalkan kewajiban kita untuk terus memberinya bekal keilmuan - bisa menjadi titip positif yang didapatkan oleh mereka selain efek positif bagi ustadznya, karena dengan pemberdayaan ini bisa  meringankan dan membantu peran keustadazan terutama ketika ada pendampingan bagi santri-santri kecil lainnya.

Tinggal sekarang, yang harus dirumsukan adalah model pemberdayaan seperti apa yang sesuai dengan potensi dan kemampuan mereka, karena bagaimanapun juga kapabilitas serta kualitas tidak boleh diabaikan.

Wallahu A'lam...

Selasa, 07 Mei 2013

Kereta AC…Mana AC-nya ??

Kereta api merupakan salah satu sarana transportasi umum yang sampai sekarang masih sangat diminati oleh sebagian besar masyarakat. Minat masyarakat ini dikarenakan faktor ekonomis dan efektifitas perjalanan yang relatif cepat.

Berbeda dengan beberapa tahun ke belakang, dimana kondisi kereta api benar-benar dicintai oleh segmen masyarakat menengah ke bawah, sehingga kondisi penuhnya kereta api bisa terlihat disaat mudik atau liburan panjang.

Untuk sekarang ini PT. KAI menerapkan sistem dan kebijakan baru yaitu memperbaiki fasilitas demi kenyamanan penumpang. Di antaranya dengan membatasi jumlah penumpang sesuai dengan kuota ( tidak menjual tiket tanpa tempat duduk ), menerapkan sistem booking atau reservasi, melarang penjual dan pengemis untuk masuk ke kereta kecuali disaat berhenti sampai menaikan tarif dan pemasangan Ac bagi kereta ekonomi.

Tentunya fasilitas dan kenyamanan seperti itu tidak bisa dipungkiri setiap orang pasti mendambakannya. Karena bagi konsumen, kenyamanan adalah segalanya dan bagi Produsen dalam hal ini PT.KAI bahwa kepuasan pelanggan adalah segalanya.

Selasa, 30 April 2013

PAN Menuju Lembaga Profesional

Alhamdulilah rencana pembangunan Masjid Nur Farhan sedikit demi sedikit sudah mulai terlihat tahap penyelesaian. Sesuai rencana awal bahwa penggunaan Masjid lantai 2 paling tidak sudah bisa dimanfaatkan sebelum masuk bulan Ramadhan.

Tentunya penyelesaian Masjid Nur Farhan sebagai tempat yang menaungi kegiatan belajar mengajar sangat dinanti-nanti. Ada banyak ide dan harapan dengan selesainya pembangunan Masjid Nur Farhan.

Masjid yang terdiri dari dua lantai dan sepetak di lantai 3 adalah potensi yang luar biasa yang bisa dikembangkan sehingga keberadaannya bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar.

Idealisme yang masih dalam mimpi salah satunya adalah menjadikan PAN Sebagai lembaga yang dikelola secara profesional.  Pengadaan fasilitas kegiatan belajar mengajar juga menjadi media untuk menuju ke arah profesionalitas. Termasuk sistem dan manajemen yang harus dikelola dengan sungguh-sungguh, kondisi pengajar yang handal dalam mengelola dan memanage PAN, adalah impian terbesar untuk sekarang ini.

Pengajian Berbasis Budaya Lokal


Dalam rangka syiar Islam ada banyak hal yang dilakukan oleh kaum muslimin, salah satunya dengan meng-adakan kegiatan pengajian. Pengajian itu sendiri berasal dari kata kaji, mengkaji, mengaji, yakni menggali sesuatu untuk pemahaman yang akan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Materi kajian itu sendiri pada umumnya adalah tentang pemahaman keagamaan yang ada di masyarakat sekitar.

Berbeda antara Kajian dalam acara Pengajian dan Kajian dalam dunia akademis. Dalam dunia Pengajian ada banyak agenda-agenda yang menyertainya. Mulai dari rangkaian penunjang maupun susunan acara itu sendiri.

Sebagaimana layaknya pengajian pada umumnya, acara pengajian senantiasa didominasi oleh nuansa Islam, mulai dari tema acara, pakaian, sampai konsepnya pun harus bernuansa islami.


Dalam rangka memberikan wawasan atau open minded kepada masyarakat sekitar, muncul ide dan gagasan mengenai konsep acara pengajian. Ide ini muncul dalam rangka melestarikan budaya serta meng-akulturasikan antara Budaya Islam dan Budaya Lokal.

Salah satu ide adalah penggunaan kostum nJawani  dalam acara pengajian. Bukan hal yang aneh jika akhir-akhir ini marak acara pengajian dengan bernuansa budaya lokal. Sebagaimana Sunan Kalijaga ketika menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya yang akhirnya lebih diterima oleh masyarakat Jawa pada waktu itu. Jadi yang bisa kita ambil adalah makna atau substansi yang terlihat daripada sekedar mempermasalahkan penampilan lahiriyahnya.

So.. tidak ada kata ragu untuk mencoba hal yang baru yang belum pernah kita coba....


WAKTU

MEDIA SOSIAL